Loading...

6 Anak Positif Campak Di Kecamatan GAS, Hingga Saat ini, Tercatat 37 Kasus Campak di Inhil.

TEMBILAHAN (RIAUSKY.COM)- Penyakit Campak mengancam Dusun Murni, Desa Teluk Pantaian, Kecamatan Gaung Anak Serka (GAS) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil).

Sedikitnya 8 anak yang mengalami demam tinggi dan 6 anak positif mengidap penyakit yang mudah menular tersebut dalam sepekan terakhir.

Terjadinya Kasus Campak tersebut ditegaskan oleh Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Inhil H. Zainal Arifin, SKM, M.Kes melalui Kepala Seksi (Kasi) Surveilans dan Imunisasi Herman Mahat SKM, M.Kes.

Loading...

“Kita mendapatkan laporan terjadinya Kasus Campak di wilayah kerja Puskesmas Teluk Pinang langsung dari Kepala Puskesmas Teluk Pinang,”ucap Herman.

Kepala Puskesmas Teluk Pinang, H. Kusma Hendra, SKM saat dikonfirmasi mengatakan, pihaknya sudah melakukan penanganan medis kepada para anak yang dinyatakan positif campak.

“Dokter dari Puskesmas sudah terjun langsung ke Dusun Murni, Desa Teluk Pantaian untuk melakukan penanganan kepada seluruh anak yang mengidap campak,”ungkap Hendra

Sementara itu, dr Destia  Wulandari Batubara yang merupakan dokter yang bertugas di Puskesmas Teluk Pinang, saat dihubungi melalui sambungan seluler, menjelaskan, kasus campak yang terjadi di Dusun Murni tersebut. Gejala campak dikatakan dr Destia, muncul hingga 10 sampai 14 hari setelah paparan. Gejala tersebut termasuk batuk, pilek atau radang sakit tenggorokan, demam dan ruam kulit, bercak kemerahan juga kehilangan selera makan.

“Awalnya kita mendapat laporan dari petugas Pustu, dan pada hari sebelumnya memang ada orang tua yang membawa anaknya datang kerumah untuk berobat. Setelah mendapat laporan, kita lakukan pelacakan kasus. Dari 8 anak, 7 yang dipastikan positif, untuk yang 1 ruamnya belum terlihat”, terang dr Destia.

“Campak adalah infeksi virus yang ditandai dengan munculnya ruam seluruh tubuh dan sangat menular. Campak bisa sangat mengganggu dan mengarah pada komplikasi yang lebih serius. Gejala campak mulai muncul sekitar 1 hingga 2 minggu setelah virus masuk ke dalam tubuh, melalui percikan cairan ketika bersin, udara yang dihirup ketika penderita batuk”, tambahnya

Setelah dilakukan pemeriksaan, dr Destia kembali memaparkan, hasilnya menunjukkan 7 anak positif campak dengan komplikasi. Dengan cepat, pihaknya langsung memberikan penanganan langsung oleh dokter spesialis anak.

“Jadi seluruh anak yang sudah pasti positif campak, kita observasi, yang demam, kita berikan obat demam, yang batuk juga kita berikan obat batuk, juga disertai vitamin A. Sejauh ini belum ada yang sampai ketingkat rujukan,”paparnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Herman Mahat, setelah terjadinya Kasus campak tersebut, langkah pertama yang dilakukan pihaknya adalah melakukan penyelidikan epidemiologi.

Dirinya juga menjelaskan, surveilans kesehatan masyarakat adalah proses pengumpulan data kesehatan yang mencakup tidak saja pengumpulan informasi secara sistematik tetapi juga melibatkan analisis, interprestasi, penyebaran dan Penggunaan informasi kesehatan. Hasil surveilans dan pengumpulan serta analisis data digunakan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, tentang status kesehatan populasi guna merencanakan, menerapkan, mendeskripsikan, dan mengevaluasi program kesehatan masyarakat untuk mengendalikan dan mencegah kejadian yang merugikan kesehatan.

“Selanjutnya tugas kita Dinas Kesehatan adalah Memonitor penyelidik kasus itu sampai sejauh mana terjadi di masyarakat, kepada masyarakat yang sakit tetap melakukan pengobatan seperti biasa, jika demam, diberi penurun demam, juga diberikan vitamin A untuk menambah kekebalan,”tuturnya.

Sepanjang tahun 2018, masih dikatakan Herman, sejak Januari hingga saat ini, ditemukan 37 kasus campak dikabupaten Inhil.

“Jika terkena, tidak akan terkena langsung, 10 sampai 15 hari baru muncul gejala, dan penyakit ini cepat sekali menjadi wabah. Salah satu langkah adalah vaksin, sementara ini vaksin menjadi masalah, sudah tercatat 37 kasus Campak yang terjadi di Inhil,”tambahnya.

Dirinya berharap, setelah terjadinya kasus ini, dapat memberikan pelajaran berharga untuk semua pihak, dan berharap tidak ditemukan kembali kasus campak, karena pada tahun 2017 lalu, terjadi kasus Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di Desa Sungai Bela, sebanyak 28 kasus dalam 1 desa, dalam waktu yang relatif cepat. (Promkes Dinkes Inhil)

 



[Ikuti Terus RiauAir Melalui Sosial Media]