Loading...

Bonita 'Kembali', Bule Cantik 'Shakti' Temukan Jejaknya di Kebun Sawit Blok 70

TEMBILAHAN (RIAUAIR.COM) - Lama menghilang, jejak-jejak terbaru harimau Bonita terlacak oleh 'pawang' wanita asal Kanada, Shakti, di perkebunan sawit. Namun, sosok harimau liar itu belum ditemukan.

Harimau Bonita kembali ke perkebunan sawit, tepatnya perkebunan milik PT Tabung Haji Indo Plantation di Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, setelah sempat pulang ke habitatnya di hutan.

"Bonita sekarang kembali lagi ke perkebunan sawit. Sebelumnya, Bonita sempat masuk ke kawasan hutan," kata Kepala Bidang Wilayah I Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Mulyo Hutomo, Jumat (13/4/2018).

Loading...

Menurut dia, Harimau Bonita terus diburu oleh tim terpadu yang terdiri dari BBKSDA, TNI/Polri dan aktivis lingkungan dan dibantu Shakti yang merupakan ahli Communicator Animal atau komunikasi satwa lewat frekuensi gelombang suara.

"Tim sempat tanya sama Shakti, kira-kira posisi Harimau Bonita sekarang ada di mana. Ahli communicator animal itu lewat gelombang frekuensi yang dia pelajari, menyatakan ada di kawasan kebun sawit ," ujar Hutomo seperti dilansir Detik.com.

Hutomo mengatakan pihak BBKSDA ingin menguji keahlian kemampuan komunikasi lewat gelombang suara yang dimiliki Shakti. Setelah dikukan penelusuran, Harimau Bonita kini masuk ke perkebunan sawit.

"Jejak Bonita ditemukan tim di lahan sawit Blok 70. Walau berjumpa dengan jejaknya, namun tim belum bertemu langsung dengan Bonita," kata Hutomo.

Tiga bulan lebih lamanya tim berusaha mengevakuasi Bonita dari lokasi konflik. Harimau liar itu pada 3 Januari lalu telah menyerang Jumiati hingga tewas di perkebunan sawit. 

Bonita lalu 'diburu'. Tim BBKSDA Riau turun ke lokasi untuk mengatasi kondisi di lapangan. BBKSDA memberikan perlindungan kepada masyarakat juga menyelamatkan Bonita dari ancaman pembunuhan sekelompok masyarakat.

Belum lagi selesai mengevakuasi, Bonita kembali melakukan aksinya menyerang kembali warga, Yusri, pada 10 Maret lalu, buruh bangunan itu tewas diserang Bonita. Sejak itu tim terpadu pun dibentuk. Sniper dari TNI/Polri pun diterjunkan untuk membantu tim yang sudah ada.

Sudah berjalan tiga bulan ini, tim belum juga berhasil mengevakuasi Bonita. Harimau liar yang kian langka di Indonesia ini sebenarnya sebelum terjadi konflik adalah sasaran pembunuhan dari sekelompok pemburu liar.

Hal itu bisa dibuktikan, ketika tim terjun ke lokasi pascatewasnya Jumiati, penelusuran di lokasi konflik banyak ditemukan jeratan harimau yang sengaja dipasang. Jeratan itu disita tim BBKSDA Riau dari sejumlah titik di kawasan konflik tersebut. Jeratan terbuat dari slink yang mematikan itu, membuktikan bahwa kelompok pemburu liar lebih awal akan membunuh Bonita.

Konflik manusia dengan harimau ini terjadi karena hancurnya kawasan hutan alam. Habitat Bonita disulap menjadi perkebunan sawit dan diberikannya izin kawasan hutan tanaman industri untuk kelangsungan pabrik kertas di Riau. Perizinan itu diberikan oleh penguasa masa lalu. Kini, manusia dan harimau konflik imbas dari kebijakan yang salah urus di masa lalu. (*)



[Ikuti Terus RiauAir Melalui Sosial Media]