Loading...

Kata Mensos, Ini Tempat Pelacuran Terbesar se-Indonesia

Khofifah Indar Parawansa

Samarinda, RiauAir.com - Pemerintah benar-benar sedang berperang melawan segala bentuk praktik prostitusi. Yang terbaru, Kemensos bekerja sama dengan Pemprov Kaltim kemarin (1/6) menutup serentak seluruh lokalisasi prostitusi di provinsi tersebut. 
 
Dinas Sosial (Dinsos) Kaltim mencatat, ada 22 lokalisasi dan 16 lokasi prostitusi di sana. Dari 38 tempat tersebut, terdeteksi 1.515 pekerja seks komersial (PSK) yang mengais rezeki dengan menjajakan diri. 
 
Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menyatakan, Kaltim merupakan provinsi dengan lokalisasi terbesar kedua setelah Jawa Barat. Penilaian itu berdasar jumlah lokalisasi yang jauh lebih banyak daripada di provinsi lain. 
 
"Bukan penghuninya. Kalau penghuni memang jauh lebih besar Dolly di Surabaya. Bahkan, kata Pak Dahlan Iskan, kalau dihitung, tamu dan penghuni dalam satu malam bisa mencapai 60 ribu," ungkap Khofifah di lokalisasi prostitusi Bayur, Kelurahan Sempaja Utara, Kota Samarinda, kemarin. 
 
Menurut Khofifah, lokalisasi-lokalisasi di Indonesia harus ditutup. Sebab, kawasan itu sangat dekat dengan tindak kekerasan, eksploitasi, dan human trafficking. 
 
Pemerintah memastikan tidak akan lepas tangan dalam penutupan sejumlah lokalisasi di Indonesia. Kemensos berjanji memberikan bantuan modal bagi para eks PSK agar kelak bisa hidup mandiri dan tidak kembali ke profesinya. 
 
Khofifah mengatakan, setiap bekas PSK akan diberi uang saku dan modal Rp 5,050 juta per orang. "Karena itu, nanti kita verifikasi," ucapnya.
 
Dengan penutupan lokalisasi di Kaltim itu, pemerintah masih punya pekerjaan rumah (PR) untuk menutup 69 titik lainnya. Dari jumlah tersebut, lokalisasi terbesar saat ini berada di Jawa Barat. Ada sebelas lokalisasi dengan sekitar 21 ribu penghuni. 
 
"Pada 29 Mei 2016 kemarin sudah dilakukan penutupan di Mojokerto. Bulan puasa nanti, rencananya di Dadap dan Sanggrahan. Itu ada 600 penghuni," papar dia. 
 
Gubernur Kaltim Awang Faroek mengatakan, upaya penutupan seluruh lokalisasi prostitusi di Kaltim itu cukup berliku. Ada pihak-pihak yang menolak keras rencana tersebut. 
 
"Ada salah seorang ketua DPRD yang tidak setuju pada penutupan ini," ungkapnya. Namun, dia bersyukur seluruh proses berjalan dengan baik. Tidak ada aksi anarkistis. 
 
Awang menjelaskan, penutupan serempak itu bertujuan agar eks PSK tidak lari ke lokalisasi lain di Kaltim. Sebagaimana yang terjadi saat Dolly ditutup, dia memprediksi ada beberapa yang pindah ke daerah pimpinannya. (R-01/Jpg)



[Ikuti Terus RiauAir Melalui Sosial Media]