Loading...

Ibu di Rimba Melintang Meninggal Setelah Lihat Putranya Dibentak Polantas di Depan Rumah

Sugeng, suami Riana yang juga ayah Hari Prihartono tak kuasa meratapi kepergian istrinya yang tidak diduga.

BAGANSIAPIAPI (RIAUSKY.COM) - Beberapa minggu belakangan ini Polres Rohil melalui Satlantas gencar melakukan  Giat patroli Hunting di jalan-jalan lintas. 

Kegiatan ini dilakukan untuk menertibkan aktivitas berlalu lintas dengan cara menindak para pemakai jalan yang melanggar peraturan  seperti tidak memakai helm, spion, tidak ada nomor  polisi (BM) dan lain-lainnya.

Namun, giat patroli hunting yang diLakukan Satlantas Rohil tersebut banyak disalah gunakan oleh anggota lantas. Mereka mengejar pemakai jalan sampai ke gang-gang jalan, hingga ke depan rumah pemilik sepeda motor bahkan sampai ke kampung-kampung.

Loading...

Seperti yang dialami keluarga Sugeng (45) warga Kepenghuluan Pematang Botam, Kecamatan Rimba Melintang Kabupaten Rohil - Riau.

Tubuhnya begitu lemah, sakit. Di tangannya terpasang jarum infus. Ini semua disebabkan karen Istri tercintanya begitu cepat meninggalkan dia berserta anaknya untuk kembali ke pangkuan Allah swt.

Riana (40) istri Sugeng menghembuskan nafas terakhirnya Jumat (2/2/18) sekira pukul 09.30 wib di rumah korban. 

Diduga Riana meninggal dunia karena disebabkan oleh Giat Patroli Hunting yang dilakukan Satlantas Polres Rohil, sehingga membuat dia shock lalu meninggal seketika.

Hari Prihartono (20) anak almarhum saat di konfirmasi Sabtu (3/2/18) di rumah duka menceritakan bahwa penyebab ibunya meninggal dunia oleh, adanya Giat Patroli Hunting dilakukan anggota lantas yang bertugas Pos Lantas Simpang Poros. 

"Saat itu, ibu saya sakit kaki. Saya disuruh oleh ibu untuk menjeput Nenek Banjar tukang urut. Pada saat berkendara, saya tidak mengenakan helm, karena saya berangapan bahwa jarak rumah Nenek Banjar dari rumah kami hanya kira-kira 200 meter dan jalan yang saya tempuh bukan jalan lintas (beraspal) tapi jalan tanah kuning. Karena buru-buru saya tidak pakai helm," cerita Hari.

Di depan kantor Kepenghuluan Pematang Botam, ia disetop oleh salah satu anggota Satlantas Polres Rohil yang sedang melakukan giat patroli hunting. 

"Sebelumnya, anggota lantas tersebut lagi mengejar sepeda motor yang lagi bawa jeriken. Namun, anggota tersebut tidak berhasil mengejar sepada motor yang membawa jeriken tapi jeriken yang bawa sepeda motor tersebut jatuh. Karena melihat saya tidak pakai helm, lantas, anggota tersebut menanyakan kepada saya dengan mengatakan,  kenapa tidak pakai helm kamu.? Emangnya, ini jalan nenek monyang mu, katanya dengan nada agak tinggi. Lalu saya kata kan" lupa saya pak, karena tadi buru-buru mau jeput tukang kusuk, ibu saya sakit," ucap saya.

Selanjutnya, anggota lantas tersebut menyuruhnya untuk ikut dengan dia ke pos lantas simpang poros.

"Ayo.., ikut saya kepos dan kamu bawa tu jeriken, kata anggota lantas kepada saya. Saya ikuti perintah yang disuruh anggota tersebut. Waktu sampai di depan rumah saya, saya berhenti, niat hati mau ngambil helm di rumah. Melihat saya berhenti anggota lantas tersebut bertanya kepada saya, dengan mengatakan, kenapa kamu berhenti..?  dengan nada yang begitu tinggi. Sehingga ibu saya yang lagi sakit kaki terdengar ucapan anggota lantas yang begitu tinggi nadanya. Ibu pun keluar dari dalam rumah.

Selanjut nya, ibu memangil ayah yang berada dalam rumah. "Bapak, bapak, lihat anak kita, kenapa dia tu," kata ibu kepada ayah. 

"Tapi anggota lantas tersebut terus berkata dengan nada yang begitu tinggi terhadap saya, sehingga membuat ibu syok dan drop. Seketika itu juga, ibu kejang-kejang lalu meninggal dunia. Setelah melihat saya dibentak- bentak. " cerita Prihartono.

Kapolres Rokan Hilir AKBP. Sigit Adiwuryanto Sik SH ketika dikonfirmasi melalui Kasat lantas AkP. Agustinu Chandra Sik Sh dengan mengunakan  WhatsApp (WA) pribadi menjelaskan bahwa pada Jumat (2/2/18) tim anggota lantas sedang patroli Hunting di simpang poros dalam. 

Pada saat itu, anggota lantas sedang mengikuti sepeda motor yang pengendaranya tidak pakai helm. Namun, kemudian pengendara motor itu ngebut kabur hingga jerigennya jatuh.

Karena pengendara tadi ngebut, anggota lantas melepaskannya dan mengambil jerigen tersebut dan balik ke pos. 

Saat di depan kantor penghulu anggota tadi melihat salah satu warga yang pakai sepeda motor tidak memakai helm. 

Selanjutnya, anggota tersebut menghentikan pengendara tersebut dan ditegur kemudian diajak ke pos untuk ditilang. 

Saat perjalanan ke pos pengendara tersebut berhenti di depan rumahnya untuk menunjukkan bahwa itu rumahnya dan ada helmnya di rumah.

Saat itu bapak pengendara tersebut keluar dan menanyakan ada apa lalu dijelaskan. Ternyata di dalam rumah ada Ibunya yang sedang sakit parah dengan kondisi drop melihat kejadian itu kemudian keluar juga dan menjadi semakin drop.

"Anggota sat lantas akhirnya tidak jadi menilang dan mengingatkan agar tak diulangi kemudian kembali ke pos. Sesaat setelah itu, kami mendapatkan informasi bahwa ibunya meninggal dunia," jelasnya.

"Mendapat informasi tersebut saya dan anggota langsung ke rumah duka untuk mengklarifikasi masalah supaya jelas dan tidak ada orang orang yang mencoba memprovokasi ke hal yang lain. Saat itu kami didampingi oleh pihak penghulu sehingga situasi aman dan kondusif," tambahnya.

"Tadi pagi saya dan anggota mengadakan sosialisasi tertib berlalu lintas di kantor penghulu sesuai dengan permintaan warga Rimba Melintang. Saat sesi tanya jawab masyarakat antusias dan memahami arti pentingnya tertib berlalu lintas dan mereka mendukung. Setelah itu dilanjutkan dengan pertemuan antara keluarga dengan pihak satlantas dan kepala penghulu di ruangan penghulu. Saat ini tidak ada permasalahan lagi antara pihak keluarga dengan sat lantas Polres Rohil. Situasi aman dan kondusif," pamungkas Kasat Lantas. (R15)



[Ikuti Terus RiauAir Melalui Sosial Media]