Heboh! Anak-anak Jalanan Dijadikan Budak Seks Oleh Pelaku LGBT, Faktanya Mengejutkan...

Print

Anak-anak jalanan yang menjadi korban perilaku menyimpang para LGBT

Anak-anak jalanan yang menjadi korban perilaku menyimpang para LGBT

PAYAKUMBUH (RIAUAIR.COM)– Fakta mengejutkan tersiar dari Payakumbuh. Berawal dari penangkapan tiga anak jalanan oleh Polisi Pamong Praja (Pol PP), terkuak adanya kasus yang mengarah pada perbudakan seks. 

Pelakunya, seorang gay. Sejumlah anak jalanan yang masih berusia remaja yang jadi korban. Mereka dipaksa melayani nafsu sejenis kaum LGBT tersebut.

Pengakuan ketiganya sontak membuat heboh. Apalagi perbuatan menyimpang itu sudah berbulan-bulan dilakukan. 

Pelaku berinisial AS yang dikenal luas sebagai seorang waria, menjadikan dua anak jalanan sebagai pelampiasan nafsu, dan diiming-imingi tempat tinggal serta uang. Salah satunya bahkan sudah tinggal serumah selama tiga bulan.

Semuanya berawal sewaktu Pol PP menjaring beberapa anak jalanan yang sedang menghisap lem, Rabu (10/1/2018) malam. 

Ketiganya lalu digelandang ke Mako Pol PP Payakumbuh untuk didata. Setelah pendataan selesai, mereka ditanyai seputar prilakunya setiap hari. Termasuk dimana mereka tinggal, dan dengan siapa menggantungkan hidupnya.

Usai pertanyaan diluncurkan, seorang anak jalanan berinisial IP (17) akhirnya bercerita. Dia mengaku tinggal dihidupi oleh seorang gay. Konsekuensinya, setiap malam dirinya dipaksa untuk memuaskan nafsu sang gay tersebut.

“Saya sudah tinggal serumah, dan melakukan hubungan intim. Sering. Hampir setiap malam melakukan dengannya,” tutur IP ketika ditanya petugas.

Diceritakan IP, awalnya dia bertemu dengan si waria di warnet kawasan Bunian, Kota Payakumbuh. 

Kedatangannya ke warnet juga atas ajakan pelaku. Setelah berada di warnet, dia mulai dirayu.

“Saya diiming-imingi tempat tinggal dan uang. Karena memang tidak punya tempat tinggal dan uang, saya terima saja ajakan itu. Termasuk berhubungan badan,” papar IP.

Ketika itu, IP memang butuh tempat tinggal. Dia tidak punya orangtua dan hanya dirawat neneknya sewaktu kecil. 

Saat duduk di bangku kelas satu SD, neneknya meninggal. Otomatis IP sebatang kara dan berhenti sekolah. 

Hingga sekarang dirinya menghabiskan waktu di jalanan dan tidur di emperan toko tingkat dua bekas Aprilia, Pasar Payakumbuh.

“Namun sejak bergaul dengan AS, saya lebih sering tidur di rumahnya dan dijadikan objek seks,” tutur IP.

Oleh pelaku LGBT, seperti dilaporkan harian haluan,  IP diposisikan sebagai top. Dalam istilah kaum LGBT, top lebih identik dengan pasangan yang memposisikan diri sebagai pria dalam berhubungan sesama jenis. Sedangkan AS bertindak sebagai bottom, atau perempuan. 

“Saya yang melakukan kepadanya,” lanjut IP lagi.

IP tidak sendiri. Kawannya, RZ (15) juga mengalami kejadian itu juga. Bedanya, jika IP jadi top, RZ malah diposisikan AS sebagai bottom. 

Dia diperlakukan layaknya seorang perempuan dalam berhubungan badan, dengan iming-iming uang Rp5 ribu. RZ yang mengaku asal Bukittinggi dan sudah setahun berada di Payakumbuh mengatakan baru tiga kali melayani nafsu menyimpang waria tersebut.

“Kalau saya baru tiga kali,” sebutnya.

Sedangkan remaja ketiga berinisial AH (14) mengaku hanya disuruh meraba-raba tubuh seorang pengidap LGBT berinisial BA. Dia bukan asli Payakumbuh. Datang ke Kota Batiah beberapa bulan yang lalu dan menjadi anak jalanan. 

“Saya disuruh meraba tubuhnya. Tapi bukan dengan AS. Orangnya berbeda pula. Tapi sama-sama laki-laki,” ungkap AH.(R04)

BERITA TERKAIT

TULIS KOMENTAR

BERITA SEBELUMNYA