Penyidik Kepolisian Periksa 3 Pejabat terkait SK Pengangkatan CPNS Bodong

Print

Dokumen tentang penerimaan CPNS biodong di Rokan Hulu.

Dokumen tentang penerimaan CPNS biodong di Rokan Hulu.

PasirPengaraian, RIAUAIR.COM- Penyidik Kepolisian Resor (Polres) Rokan Hulu (Rohul) kembali panggil tiga Pejabat teras Pemkab Rohul terkait dugaan Penipuan Surat Keputusan (SK) Pengangkatan tenaga Honorer palsu atau bodong. 

Sebelumnya, tiga pejabat teras Pemkab Rohul juga sudah pernah dipanggil sebagai saksi dalam perkara sama yang menyeret tiga tersangka yakni, Muharmi (PNS RSUD Rohul) Romi (Wiraswasta) dan Iskandar (mantan honorer RSUD Rohul. Ketiga dinyatakan bersalah pada sidang vonis di PN Pasir Pengaraian baru-baru ini.

Tiga nama ini tentunya sudah tidak asing lagi bagi khalayak ramai, mereka adalah Sekdakab Rohul Ir Damri, Mantan Asisten III Pemkab Rohul Sri Mulyati alias Eneng dan mantan Kepala Dinas Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan (KPP) Rohul Fajar Sidqy.

Perihal pemanggilan kembali pejabat Rohul ini terkait adanya tersangka baru hasil pengembangan perkara sebelumnya. Ia adalah perempuan berinisial IY (32) warga desa Rambah Kecamatan Rambah Hilir.

IY yang juga honorer RSUD Rohul ditetapkan tersangka oleh penyidik berdasarkan laporan 4 orang keluarga korban penipuan SK Pengangkat honorer Pemkab Rohul. Mereka adalah Saelan, M Dahlan, Rusli Manik dan Hesti Trideswita. IY saat ini menjadi tahanan penyidik Polres Rohul pasca ditetapkan tersangka pada bulan lalu.

Kapolres Rohul AKBP Yusup Rahmanto, SIK. MH melalui Kasat Reskrim AKP M. Wirawan Novianto, SIK membenarkan adanya pemanggilan tiga pejabat Pemkab Rohul dalam perkara penipuan SK Pengangkatan honorer ini. Pemanggilan hanya sebatas sebagai saksi.

"Perkara sama dengan sebelumnya. Namun kali ini tersangkanya berbeda, ia adalah perempuan berinisial IY yang dilaporkan oleh empat korban SK honorer palsu,"kata AKP M. Wirawan, Selasa (5/9).

Diakui M. Wirawan, pihaknya melakukan pemanggilan terhadap tiga pejabat Pemkab Rohul diatas untuk dimintai keterangan sejauh mana pengetahuan mereka terkait kasus dugaan SK Pengangkatan honorer palsu ini.

"Sudah kita layangkan surat panggilan kepada ketiganya. Namun sejauh ini baru Sekda Rohul yang memenuhi panggilan penyidik,"sebut M. Wirawan menerangkan Sekda Rohul Ir Damri sempat mangkir pada panggilan pertama karena ada kegiatan dinas luar.

Sebelumnya, tersangka IY juga sempat memberikan keterangan saksi pada sidang lanjutan digelar di PN Pasir Pengaraian. Ika, dalam keterangannya mengatakan, perannya hampir sama dengan terdakwa Muharmi (sudah divonis bersalah), yakni meminta sejumlah uang kepada korban penipuan, kemudian diserahkan ke terdakwa Muharmi, selanjutnya diserahkan kepada terdakwa Romi.

Dalam sidang yang dipimpin Majelis hakim Sarudi, SH dengan hakim anggota Irpan Hasan Lubis, SH dan Budi Setiawan, SH itu juga terungkap bahwa, dari pengakuan Ika menjelaskan rata-rata uang yang diterima dari para korban bekisar Rp 45 juta hingga Rp 50 juta. 

Diakuinya lagi, ada 4 korban, rata-rata membayar Rp 50 juta. Uang itu saya terima dengan 2 tahap, pertama  saya terima Rp 15 juta hingga Rp 20 juta per orang. Kumudian saya serahkan ke Muharmi. (CR2/tin)


 

BERITA TERKAIT

TULIS KOMENTAR

BERITA SEBELUMNYA