Loading...

Ngeri, Ini Kronologi dan Cara Supriadi Membunuh Kekasih dan Calon Bayinya Hingga Kemudian Dibakar

Supriadi dan Ema, dan latar belakang tubuh korban dibakar hangus.

PEKANBARU (RIAUSKY.COM)- Supriadi mengaku benar-benar kalap. Dia mengaku tak tahu harus bagaimana. Tiba-tiba saja tangannya menarik jilbab yang digunakan Ema Desrita, kekasihnya ke belakang.

Karena panik, Ema pun melawan dan saat itulah, Supriadi menjatuhkan wanita yang sudah dipacarinya selama delapan bulan itu lantas mencekiknya.

Suasana semakin panik, karena Ema melawan. Cekikan tangan Supridi semakin kuat sehingga akhirnya Ema kehabisan nafas dan tubuhnya terdiam meregang.

Loading...

Supriadi mencoba mencari tahu apakah benar Ema sudah tidak bernyawa. Begitu pasti kekasihnya yang sedang mengandung darah dagingnya itu sudah tidak bernyawa lagi, dia pun berusaha menghilangkan jejak dengan membakar kain yang dibawa Ema dan mencampurnya dengan fiber. 

''Kain itu diletakkan menutupi wajah baru diletakkan fiber. Tujuannya supaya wajahnya tidak ada yang mengenali, guna menghilangkan jejak,'' aku Supriadi saat penjelasan kepada media massa di Mapolresta Pekanbaru.

Supriadi mengaku kalau dirinya khilaf lantaran tidak tahu mesti berbuat apalagi karena, saat itu, sudah malam dan  pelaku tak mau pulang sementara dia sedang berbadan dua.

Dalam penjelasannya, Supriadi mengatakan dia bertemua dengan Ema pada Selasa (16 Agustus 2017). "Selasa siang dia nelpon minta jemput di Pasar Buah, setelah sampai saya tanya mau kemana, dijawab nggak tau. Diantar pulang nggak mau. Saya bingung mau dibawa ke mana, sempat mutar-mutar," kata Supriadi  menjelaskan runut ceritanya, dihadapan Kapolresta Pekanbaru Kombes Susanto.

Berlanjut keesokan harinya, Supriadi  yang baru pulang kerja ditelpon oleh Ema, bahwa ia sudah sampai di simpang rumah pelaku, Jalan Kurnia Kecamatan Rumbai Pesisir, Pekanbaru. "Kita jumpa dan pergi mutar-mutar sampai malam, jam 22.00 WIB, kita ke sana (Jalan Yos Sudarso, red) karena di sana sepi," katanya seperti dilansir dari goriau.

Di situ akhirnya Ema dibunuh dengan tragis. Kata Adi (Sapaan pelaku, red), korban sempat bersandar di dadanya, bahkan sempat berbincang-bincang. "Saya tanya mau kemana, soalnya uang sisa Rp28 ribu, diajak pulang dia nggak mau. Mikir saya, akhirnya khilaf," sebutnya sambil tertunduk.

Tanpa fikir panjang, dia lalu menarik kain jilbab yang dipakai Ema ke belakang. Ketika itu gadis 20 tahun tersebut sempat berontak. 

"Karena berontak, saya rebahkan baru saya cekik pakai tangan. Pas udah lemas, saya periksa denyut nadi dan detak jantungnya," terang pria berkulit hitam itu.

Setelah memastikan korban tak bernyawa lagi, sang kekasih lalu mengambil kain yang dibawa korban dan membakar tubuh Ema. Pelaku sengaja melakukan itu untuk menghilangkan jejak. "Saya tutup juga wajahnya sama kain baru dengan fiber, alasannya untuk hilangkan jejak," tukas dia.

Kapolresta Pekanbaru Kombes Susanto didampingi Kasat Reskrim Kompol Bimo Ariyanto menjelaskan, Supriadi enggan bertanggung jawab atas kehamilan kekasihnya dengan dalih belum ada biaya, karena sehari-hari pelaku bekerja sebagai buruh bangunan. Padahal antara Supriadi dan keluarga korban sudah saling kenal. (R07)



[Ikuti Terus RiauAir Melalui Sosial Media]