Riau Punya Lima Pembangkit, Tapi Segini Cuma Kemampuannya...

Print

Pekanbaru, RiauAir.com - Listrik masih menjadi persoalan yang tak kunjung selesai di Riau, termasuk juga sejumlah daerah lainnya. Padahal, pertumbuhan ekonomi Riau yang terus meningkat membutuhkan pasokan listrik yang besar pula.
 
"Pasokan listrik di Riau masih jauh dari harapan, kondisi kelam itu masih belum ditambah dengan situasi ketika beban puncak pemakaian yang bisa mencapai 225,80 mega watt," ujar Koordinator Investigasi Masyarakat Peduli Listrik (MPL), Ramdani.
 
Menurut Ramdani, beban puncak tersebut belum dapat dipenuhi atau didukung oleh pasokan listrik yang memadai walau sudah ada lima pembangkit di provinsi ini karena ternyata lima pembangkit listrik itu hanya mampu memasok 190,8 mega watt.
 
Meliputi PLTA Koto Panjang 114 MW, PLTG Teluk Lembu 43,3 MW, PLTD Teluk Lembu 7,5 MW, PLTD Dumai atau Bagan Besar 8 MW dan PLTG Riau Power 20 MW. "Jadi, listrik di Riau masih defisit sampai 135,47 MW," papar alumni Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU).
 
Menurut Ramdani, sebenarnya dengan proyek pembangunan 10.000 MW tahap pertama, minimnya pasokan listrik Riau bisa sedikit diatasi. Pasokan baru itu bersumber dari PLTU, sehingga bisa mendapat tambahan 2x100 MW sejak 2011 lalu.
 
"Itu sama sekali tidak pernah terwujud karena PT PLN sampai dengan hari ini sama sekali tidak terlihat berhasil merealisirnya," sambung dia.
 
Untuk menekan persoalan kelistrikan di Riau baru akan bisa mendekati normal sebesar kebutuhan beban puncak pemakaian jika sejak tahun 2016 ini seluruh pemerintah daerah yang didukung pemerintah provinsi mendorong PT PLN mewujudkan penambahan pasokan 2x100 MW.
 
"Seharusnya sinergitas seluruh Pemda tentu akan dengan mudah untuk bisa maksimal menekan PT. PLN untuk sesegera mungkin mewujudkannya," ujar Dani.
 
Menurut Ramdani, untung saja para produsen crude palm oil (CPO) di Riau telah memiliki pembangkit sendiri, artinya tidak sepenuhnya tergantung dari listrik PT PLN.
 
"Ketersediaan pasokan hanya 190,8 MW, sementara kebutuhan terus meningkat rata-rata sebesar 12 persen per tahun, maka PT PLN sekarang harus pontang panting mengatasi defisit listrik. Mereka berada dalam situasi yang sangat tidak menguntungkan. Kami prediksi, salah satu cara yang akan mereka tempuh adalah dengan melakukan upaya interkoneksi Sumatera, artinya mengambil pasokan dari Sub Sistem Utara sebesar 32,2 MW dan pasokan dari Sub Sistem Sumbagsel mencapai 112 Mega Watt," ujar Ramdani.
 
Menurut dia, hitung-hitungan pasokan akan meningkat jadi 144,2 MW. Jika jumlah itu diakumulasi dengan pasokan Sub Sistem Riau maka total pasokan sebenarnya bisa mencapai 234 MW. Itu cukup untuk menutup defisit listrik Riau jangka pendek, walau bukan angka yang ideal.
 
Tapi, apakah itu semua akan bisa direalisasikan PT PLN? Menurut analisanya berdasar investigasi lapangan, harapan itu akan sangat kecil peluang untuk bisa terwujud.
 
"Kami akan urai berbagai kendala negatif itu per kabupaten dan kota secara tersendiri. Kondisi negatif itu idealnya menjadi masalah bersama semua Pemda, sebab kami melihat PLN akan menjadi sangat kerepotan jika dibiarkan sendiri menghadapinya," katanya.
 
"Belum lagi jika PT PLN didepan mata Pemda 'dihabisi' oleh pihak-pihak yang ingin mencari keuntungan pribadi dan kelompoknya saat mereka akan merealisisasikan upaya menutupi defisit tersebut," lanjut Dani.
Menurut Ramdani, bisa saja upaya pembiaran Pemda itu dianggap sebagai upaya membebankan kesejahteraan rakyat dari sisi energi hanya kepada PT PLN semata. "Maka agar hal itu tidak terjadi, kami sarankan Pemda memberi dukungan nyata kepada PT PLN dalam mewujudkan harapan publik itu," imbuhnya. (R-01/Tp)

BERITA TERKAIT

TULIS KOMENTAR

BERITA SEBELUMNYA