Dua Dokter, Empat Perawat dan Satu Mahasiswa Cantik Ditangkap Polisi, Diduga Sudah 30 Kali Begini

Print

Aparat kepolisian saat membongkar septik tank diduga tempat pembuangan orok pelaku aborsi.

Aparat kepolisian saat membongkar septik tank diduga tempat pembuangan orok pelaku aborsi.

Medan, riauair.comAparat kepolisian menangkap tujuh orang Klinik Budi Mulia 2, Jalan Medan-Binjai KM 13. Mereka diduga terlibat praktik aborsi dengan jumlah korban diduga  sudah mencapai 30 orang.

 
Dua diantara mereka yang ditangkap adalah tenaga dokter, sementara empat orang lainnya adalah perawat serta seorang lainnya adalah seorang ibu muda yang menjadi pasien praktik aborsi.
 
Terbongkarnya praktik terlarang ini setelah aparat kepolisian Sektor Sunggal mendapatkan informasi dari masyarakat yang curiga dengan dugaan praktik aborsi yang dilakukan di klinik ini.
 
Keterangan yang diperoleh menyebut, kasus dugaan aborsi ini terjadi saat M br S, Ahad, 8 Mei 2016 sekitar pukul 14.00 WIB, meminta dilakukan aborsi atas kandungannya yang berumur kurang lebih 2 bulan kepada dr JS yang memeriksanya di Klinik Budi Mulia 2.
 
Setelah selesai diperiksa, kemudian keduanya menyepakati untuk melakukan aborsi dengan Rp 2 juta dan pasien disarankan opname. Lalu, Senin pagi tadi, sekitar pukul 09.00 WIB, bidan inisial R,A,D dan L dipanggil dr JS untuk mendampingi.
 
Kemudian selama 25 menit bidan R, A, D dan L melihat dr JS melakukan pengorekan kandungan pasien. Setelah selesai pengorekan, polisi masuk melakukan penggrebekkan.
 
Dalam penggerebekan tersebut, petugas kepolisian sektor Sunggal mengamankan tiga orang pelaku yang diduga melakukan praktik aborsi. Ketiganya merupakan dokter, pemilik klinik dan seorang mahasiswi.
 
Ketiga orang yang ditangkap adalah M br S, Mahasiswi di Universitas Panca Budi Medan, seorang dokter yang melakukan praktik diduga aborsi berinisial dr JS dan dr ES, sebagai pemilik klinik dan penyedia peralatan.
 
Dalam pemeriksaan oleh aparat kepolisian,  empat bidan R,A, D dan L, yang mendampingi dr ES melakukan aborsi juga tidak menapik. 
 
Menurutnya, praktik aborsi ini bukan pertama kalinya. Sebelum dilakukan penangkapan ini, pada Kamis, 28 April 2016 lalu, sekitar  pukul 16.00 WIB, dr JS juga telah melakukan kegiatan aborsi dengan bidan pendamping berinisial S br S. Ketika itu, pasien dikenakan biaya Rp 2,5 Juta yang langsung diserahkan kepada dr JS.
 
Menanggapi penjelasan tersebut, Kasubdit III/Jahtanras Polda Sumut, AKBP Faisal Napitupulu menyebutkan, terungkapnya praktik aborsi itu setelah adanya laporan dari warga. Kemudian dilakukan pengintaian selama seminggu sebelum menggerebeknya.
 
“Ada laporan warga, kemudian kita tindak lanjuti dan kita intai selama seminggu. Baru digerebek,” kata dia.
 
Dia menjelaskan, setelah digerebek pihaknya mengamankan dua dokter umum (pemilik), empat perawat dan seorang pasien yang sedang opname untuk pemulihan setelah aborsi. “Korban itu baru saja aborsi berinisial R Boru Siregar (21),”pungkasnya. (R-01/i/Sin)

BERITA TERKAIT

TULIS KOMENTAR

BERITA SEBELUMNYA