Loading...

Kami Bukan Penjarah, Kami Panen Buah Sawit di Atas Tanah Sendiri Untuk Makan..

PEKANBARU (RIAUAIR.COM)- Panen buah sawit oleh warga Terantang Manuk, Kecamatan Pangkalan Kuras, Kabupaten Pelalawan, nyaris berujung bentrok, Senin (7/1/2019) petang.

Aparat kepolisian bahkan sempat beberapa kali melepas tembakan peringatan saat hendak membawa salah seorang warga yang hendak diamankan karena dituduh mengambil buah sawit.

Dari video yang beredar, tampak sejumlah aparat kepolisian sempat menarik salah seorang warga karena dituduh mengangkut buah sawit. 

Loading...

Warga yang melihat salah seorang warganya ditarik dan sudah sempat dinaikkan ke mobil polisi akhirnya marah sambil mendantangi mobil polisi.

Saat itulah, salah seorang personel polisi terlihat melepaskan tembakan senjata api ke atas sebanyak dua kali. 

''Mundur...mundur... atau kami tembak...'' kata salah seorang personel polisi dalam video yang diunggah oleh warga yang diterima oleh redaksi riausky.com.

Karena merasa tidak bersalah, warga pun balik mendatangi polisi yang sudah membawa salah seorang warga di dalam mobil avanza berwarna hitam. 

''Kalau mau tembak, tembak kami, tembak sekarang...kami bukan perampok..'' kata salah seorang warga saat peristiwa itu.

Warga langsung mendatangi mobil polisi dan meminta warga yang hendak dibawa ke kantor polisi ''Turun...Turun.. turun...kita bukan perampok... Kalau mau tembak kami, tembak...tembak..,'' amarah warga.

Dalam penjelasannya kepada riausky.com, Ketua Koperasi Terantang Jaya Mandiri (TJM) Sapar mengungkapkan kalau pihaknya tidak mencuri, tidak merampok. 

''Kami memang rakyat kecil, kami mengambil buah sawit di tanah kami sendiri, karena kami merasa itu hak kami, anak istri kami butuh makan,'' ungkap Sapar. 

Dia juga menyebutkan, pihaknya sudah berkali-kali menjelaskan kepada aparat kepolisian perihal duduk permasalahan yang terjadi antara PT Terantang Jaya Mandiri dan PT Safari Riau. 

''Kami ini rakyat yang punya tanah, tapi kami tak mendapatkan apapun. Apa salah kami menuntut sesuautu yang menjadi hak kami,'' ungkap Sapar.

Pihaknya tidak takut untuk menghadapi tuntutan perusahaan, karena, sejauh ini, ada banyak ketidakterbukaan yang terjadi dalam pengelolaan kebun KKPA ini.

''Kami sudah bekerja sama semenjak tahun 2006. Tapi perusahaan tidak pernah menjelaskan mengapa status utang kami tidak berkurang. Logis tidak, lahan kami 650 hektare, tapi hutang kredit KKPA kami hanya berkurang tidak sampai Rp1 miliar dalam sekian tahun setelah ada perjanjian,'' ungkap  Sapar.

''Saat kami tanyakan bagaimana dasar perhitungan utang piutang, laporan yang diberikan terus berubah-ubah, karena itulah, kami meminta dilakukan audit secara terbuka dan independen untuk memastikan siapa yang bersalah dalam pelaksanaan program KKPA ini,'' ungkap Sapar.

Sapar berharap semua pihak melihat persoalan ini dengan jernih. ''Kami hidup dari tanah itu. yang semua harus tahu, kami bukan menjarah milik perusahaan, itu tanah kami, anak-anak kami butuh makan, Kalau mau lihat setiap tanah kami punya sertifikat yng dikeluarkan oleh Presiden Joko Widodo,'' ungkap dia.

Hingga kemarin malam, saat dikonfirmasi, Safar mengungkapkan, suasana di Terantang Manuk sudah kembali normal. Namun, warga tetap berjaga-jaga.

''Kami masih mengadakan pertemuan, khususnya warga dan pengurus koperasi. Bagi kami, tanah kami adalah milik kami. dan itu yang kami perthankan. Kami minta keadilan, sudah kami sampaikan berkali-kali, dan karena itu kami harus mempertahankan apa yang menjadi milik kami,'' ungkap Sapar tengah malam tadi.

Pihaknya juga memastikan akan terus menyuarakan permasalahan ini kepada Presiden Joko Widodo.''Setiap kami memiliki sertifikat dan ini sah dari negara. Jadi kalau ada yang mengatakan kami mengambil apa yang bukan menjadi milik kami, itu tidak betul,'' tegas dia. (R04)

 



[Ikuti Terus RiauAir Melalui Sosial Media]