Loading...

Di Sumut Rp800, di Riau, Harga Sawit Cuma Rp500, Sudah Tekor...Mati Kami, Mati...

Petani melansir buah sawit. Saat ini harga TBS merosot tajam.

PEKANBARU (RIAUAIR.COM)- Harga kelapa sawit di tingkat petani di Provinsi Riau terus mengalami tren penurunan hingga anjlok ke angka Rp500 per kilogram. Harga ini jauh lebih rendah dibandingkan petai di Sumatera Utara yng bertahan di harga Rp800 per kilogram.

"Mati, harga sawit mati. Cuma Rp500 per kilogram," kata Reno, seorang petani sawit di Kecamatan Peranap Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, Kamis.

Petani mulai merasakan penurunan harga sawit sejak sekitar bulan Juli 2018 dari sempat menyentuh kisaran Rp1.000 per kilogram (Kg) kemudian terus merosot. Dengan harga sawit hanya Rp500 per kilogram, lanjutnya, petani yang ingin mempertahankan kebun terpaksa memanen ketimbang tanamannya rusak, apalagi usia pohon sudah mencapoi 10 tahun. 

Loading...

Banyak juga kejadian petani membiarkan tandan buah sawit tak dipanen karena merugi. "Harga balik modal produksi minimal itu di angka Rp600 per kilogram. Di bawah itu, kita sebenarnya merugi alias tekor," katanya.

Berdasarkan data Kementeriaan Koordinator Perekonomian, sawit merupakan sumber pendapatan negara terbesar Indonesia saat ini yang mencapai Rp307 triliun. Provinsi Riau menyumbang sekitar 30 persen dari produksi sawit nasional dengan luas lahan perkebunan sawit lebih dari 2,2 juta hektare. 

Agus Suroso, yang juga petani sawit, berharap pemerintah segera mencari cara untuk meningkatkan harga sawit terutama di tingkat petani. Ia mengaku merugi cukup banyak karena pada tahun ini sudah berusaha meningkatkan produksi tanaman dengan berbagai cara. Dari harga Rp500 per kilogram, ia mengatakan pemilik lahan maksimal hanya mendapatkan Rp200 setelah biaya panen dan pengangkutan tandan buah segar. 

Denga produktivitas rata-rata kebun sawit petani swadaya dengan produktivitas panen berkisar 2 ton sawit per hektare, maka dalam sekali panen petani hanya mendapat Rp400 ribu.  

"Pemeringah jangan keluarkan izin perkebunan sawit baru, menyelamatkan yang sudah ada saja belum bisa," katanya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Riau Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Riau, Ferry HC. Erna Putra mengatakan tingginya stok dan lemahnya kinerja ekspor komoditas nonmigas tersebut telah memicu menurunnya harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di Riau. 

Hal tersebut akhirnya ikut berimbas pada turunnya harga sawit di tingkat petani.

"Namun kebijakan pemerintah Indonesia yang akan membebaskan sementara pungutan ekspor CPO dan turunannya menjadi sentimen positif yang diharapkan dapat meningkatkan harga jual komoditas nonmigas Riau itu," katanya.

Menurut Ferry, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia Darmin Nasution sudah menyatakan keputusan membebaskan sementara pungutan ekspor CPO tersebut diambil karena harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani terus turun. Ia menyebutkan, selama harga TBS berada di level 400 dolar AS per ton, maka biaya pungutan ekspor yang diberlakukan oleh BPDP-KS dihapus sementara.

"Namun jika nanti harga kembali baik sampai dengan menjadi US$ 500 per ton maka pungutan ekspor diberlakukan kembali secara bertahap," katanya.(CR1/ant)



[Ikuti Terus RiauAir Melalui Sosial Media]